GpYlTUr6GpAlGfG0GpC7TpG8TA==

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi Dan Kepala Sekolah SMP Angkat Bicara Buntut Siswi Korban VCS Hingga Dituding Sekolahan Mengeluarkan / Memindah Siswa.

Wartangawi.com - Ngawi : Diberitakan sebelumnya, di beberapa Media Online seorang siswi yang menjadi korban VCS diduga dikeluarkan atau dipindah sekolah ternyata belum valid kebenarannya. 

Siswa yang berinisial D mengaku terkejut saat menerima raport yang diambil kakeknya di sekolah dan di dalam raport yang diterimanya terdapat selembar kertas yang bertuliskan keterengan pindah sekolah yang mencantumkan namanya. 

Saat awak media mendatangi D, dia menjelaskan ketika memberi keterangan sebelumnya dia hanya terkejut dengan formulir surat pindah yang di dalam raport. " Saya kaget setelah melihat raport yang dibawa kakek saya, di dalamnya ada selebaran surat pindah sekolah, setelah saya mencari informasi di beberapa teman saya ternyata di dalam raportnya semuanya ada selebaran serupa dengan yang saya dapat". Terang D. (22/06/2026)


Eko selaku Kepala SMP N 3 Ngawi menerangkan bahwa anak tersebut juga dalam perhatian khusus bagi sekolahan karena menjadi korban VCS. Dan kami dari sekolahan juga tidak mengeluarkan atau memindahkan paksa anak tersebut. " kalau masalah ada formulir pindah sekolah di dalam lembar raport itu bukan hanya D aja yang dapat, tetapi semua siswa juga dapat". Terang Eko.

Di tempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi Kabul Tunggul Winarno saat di temui awak media menuturkan bahwa korban VCS juga sudah ada perhatian khusus  dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Ngawi. Bahkan kasus ini juga sudah ada laporan dari pihak keluarga ke Polres Ngawi. "Kasus ini sudah di laporkan ke yang berwajib. dari sekolahanpun juga tidak mengeluarkan atau memindah. Karena anak yang menjadi korban VCS ini seharusnya dikuatkan mentalnya agar anak tersebut kuat dan tidak minder atau malu dengan temannya. Karena masa depan anak ini masih panjang" Tuturnya.

Kabul juga menambahkan anak usia remaja memang rentan terhadap teknologi yang mengarah negatif. " peran orang tua juga harus aktif mengontrol kegiatan anaknya ketika bermain gadget. Agar kejadian serupa tidak terulang lagi. " Tambahnya.


Pewarta : Ilham

Type above and press Enter to search.